Penggunaan robot dan otomatisasi yang meluas di sektor manufaktur dan jasa di Asia memicu perdebatan sengit tentang masa depan tenaga kerja. Asia, yang secara historis bergantung pada tenaga kerja murah, kini berada di persimpangan jalan, di mana efisiensi robot berpotensi menggantikan jutaan pekerjaan.
Penerapan robotika terlihat jelas di pabrik-pabrik di Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang, di mana otomatisasi meningkatkan kualitas, kecepatan, dan konsistensi produksi. Fenomena ini membantu negara-negara ini mempertahankan keunggulan kompetitif manufaktur meskipun biaya tenaga kerja meningkat.
Ancaman terbesar ada pada pekerjaan rutin dan berulang di sektor manufaktur dan back-office. Meskipun otomatisasi menciptakan pekerjaan baru di bidang pemeliharaan robot dan pemrograman AI, jumlah pekerjaan yang hilang diperkirakan lebih besar, terutama dalam jangka pendek.
Respon yang diperlukan adalah investasi besar-besaran dalam program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) bagi pekerja yang terdampak. Pemerintah Asia harus memimpin transisi ini, mengarahkan pekerja ke sektor yang membutuhkan keterampilan kognitif dan sosial yang tidak dapat diotomatisasi.
Meluasnya otomatisasi dan robot di Asia, terutama di sektor manufaktur, mengancam hilangnya jutaan pekerjaan rutin, menuntut investasi besar-besaran dari pemerintah untuk program pelatihan ulang dan transisi ke sektor yang membutuhkan keterampilan kognitif.

