Seiring dominasi Tiongkok dalam produksi EV dan baterai, muncul kekhawatiran di Asia Tenggara mengenai potensi monopoli dalam infrastruktur pengisian daya. Perusahaan pengisian daya Tiongkok, didukung oleh standar connector dan teknologi mereka sendiri, secara agresif memperluas jaringannya ke seluruh ASEAN, memicu kekhawatiran tentang ketergantungan teknologi dan keamanan data.
Respon Asia Tenggara adalah upaya untuk menstandardisasi infrastruktur pengisian daya melalui kebijakan pemerintah. Negara-negara seperti Thailand dan Indonesia mendorong penggunaan standar global (seperti CCS2) dan mendukung investasi pada operator pengisian daya lokal untuk memastikan persaingan yang sehat. Tujuan utamanya adalah mencegah satu entitas mengontrol seluruh ekosistem pengisian.
Selain itu, ada dorongan untuk solusi swappable battery (baterai yang dapat ditukar) untuk kendaraan roda dua (motor listrik), yang merupakan segmen pasar dominan di Asia Tenggara. Teknologi swapping ini dapat mengurangi ketergantungan pada jaringan pengisian daya yang terpusat dan membuka peluang bagi operator lokal.
Ancaman monopoli Tiongkok memaksa Asia Tenggara untuk bertindak cepat. Upaya untuk menstandardisasi teknologi, mendukung pemain lokal, dan mendorong solusi alternatif seperti swapping adalah kunci untuk mengamankan kedaulatan energi dan teknologi kawasan di era EV.

