Transisi massal ke Kendaraan Listrik (EV) di kota-kota padat Asia menghadapi hambatan signifikan, terutama terkait dengan pembangunan infrastruktur pengisian daya cepat. Keterbatasan lahan, kepadatan populasi, dan jaringan listrik yang belum sepenuhnya siap menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi untuk mendukung adopsi EV.
Di banyak kota besar Asia, sebagian besar penduduk tinggal di apartemen atau rumah susun tanpa akses parkir pribadi yang memungkinkan pengisian daya di rumah. Hal ini meningkatkan ketergantungan pada stasiun pengisian daya publik yang cepat (DC fast charging), namun ketersediaan stasiun ini masih jauh dari memadai.
Pembangunan stasiun pengisian daya cepat memerlukan investasi besar pada jaringan listrik lokal dan ruang yang signifikan di pusat-pusat kota yang sudah ramai. Proses perizinan yang rumit dan persaingan ketat untuk lahan parkir yang terbatas semakin memperlambat pengembangan infrastruktur ini.
Solusi inovatif seperti stasiun pengisian daya modular, mobile charging unit, dan sistem pertukaran baterai (battery swapping) mulai diuji coba sebagai alternatif praktis. Kolaborasi antara pemerintah daerah, perusahaan energi, dan produsen EV sangat krusial untuk menciptakan jaringan pengisian daya yang terdistribusi secara merata dan efisien.
Intisari: Adopsi EV di kota-kota Asia terhambat oleh tantangan infrastruktur pengisian daya cepat publik, didorong keterbatasan lahan di area padat penduduk dan kesiapan jaringan listrik; Solusinya adalah mobile charging dan sistem pertukaran baterai yang memerlukan kolaborasi intensif.

